kira-kira 4 tahun lalu, saya membuat artikel tentang efek sosial sebuah peristiwa sosial. saat itu saya meminjam istilah butterfly efect sebagai alat analisis. saya meminjam karena pernah membaca artikel yang bicara tentang itu. saya juga pernah melihat film tersebut sebelumnya, tetapi jujur saat itu saya masih belum cukup paham walaupun cukup mengerti garis besarnya.
dua hari lalu, saya menyimak film itu lewat sebuah stasiun tv dan saya menyimaknya dengan seksama. sebuah tema psikologi atau fenomena neorologi. yang cukup cerdik memakai itu dalam eksperimen kemungkinan-kemungkinan skenario hidup dan terutama (karena produksi hollywod) bicara hal cinta.
saya memakai cakrawala baru dalam menyimak kali ini film tersebut. dengan rasa sedikit sentimentil, puluhan kisah berlompatan di kepalaku. lalu menyusunnya dalam form logika aristotelian.
premis pertama;
kita pernah bercerita soal mimpimu, nenek(yang kau sebut nenekmu) mendatangimu di mimpimu menanyakan soalku dan kalau tak salah kau melontarkan keraguan "bagaimana kalau kita tak jodoh," saya menanggapinya dengan tersenyum, sekian menit berikutnya saya terpangaruh juga; cemas.
premis kedua;
saya membayangkan bahwa ada kisah berbeda yang berjalan beriringan dengan kenyataan yang kita jalani. ketika kita menjalani sesuatu yang membahagiakan di samping kita sesungguhnya saya tengah membayangkan kisah sebaliknya dengan segala kemungkinan peristiwa yang berbeda. saya membayangkan resiko dan apa saja yang akan menimpa kita akibat resiko tersebut.
saat aku menyatakan yakin, sebenarnya saat bersamaan disampingku tengah kubayangkan peristiwa dimana aku begitu ragu. dulu bahkan aku sering bercerita sesuatu yang awalnya fiktif lalu kubuat nyata (atau terasa begitu nyata) caranya hanya dengan menyusun cerita itu sistematis lalu meneguhkan dengan mengulang-ulang cerita tersebut.
begitupun saat aku memberikan jawaban yang ragu, sesungguhnya aku menyiapkan bayangan lain disisiku yang begitu memberikan ketegasan. tetapi sepertinya saya sementara menguji kemungkinan lain, mencoba bermain diluar kotak takdir. tetapi itulah yang kau percayai akhirnya. tetapi sebetulnya aku tak marah. tetapi akan begitu aneh saat itu bagi orang-orang bila aku tak marah dan tak menujukkan ekspresi marah.
saat aku mengatakan dulu begitu mencintaimu, saat ini aku ragu. entah aku bicara pada kenyataan atau sedang menggenapkan kisah yang kubangun sendiri. saat aku bilang itu cinta pertamaku. tidakkah kau tahu, sebanyak apapun rahasia yang kau sembunyikan padaku masih belum mengalahkan rahasia yang ku modifikasi seolah-olah keluguan.
premis keempat;
sejak bermahasiswa, saya begitu berhasrat pada logika klasik aristoteles, saat yang sama saya telah berhasrat untuk meruntuhkannya, terlalu dini memang harus mengalami megalomania. tetapi hasrat itu terbentuk sebab sejak sebelumnya, saya merasa senang bermain di imajinasi. kau tahu bahkan yang cerdas dalam memakai filsafat dan ilmuwan-ilmuwan kesehor itu melakukan lompatan pemikiran tak pernah bisa tanpa jalan imajinasi. sebab bila tidak, mereka hanya akan mengulang yang telah dilakukan pendahulunya.
premis kelima;
buttefly efect lalu juga kemudian karya-karya Jostein mempermudah saya memahami bahwa ruang pikiran kita punya lorong-lorong rumit yang keluar dari sistematika pikir logik dan linear seperti biasanya. tetapi seolah-olah logika linear yang dipraktekkan itu memenangkan hati Tuhan dalam memberikan 'takdir' pada kita. sebabnya sederhana. Tuhan tak akan melakukan tindakan yang tak masuk akal, bukankah ia mencontohkan dengan hukum alamNya? tetapi imajinasi atau kemungkinan lain adalah sesautu yang juga memang ada, setidaknya di dalam pikiran (otak) sadar kita bila pikiran itu melakukan kudeta pada otak utama kita maka kenyataan yang dilahirkan pikiran itu sendiri dengan sendirinya adalah hasil imajinasi kita. itulah mengapa sesorang yang mengkhayalkan sesuatu lalu memikirkannya dengan sungguh-sungguh maka hal itu pasti akan terwujud. tetapi mengendalikan itu dengan mengubah apa yang menjadi lampau untuk kepentingan masa kekinian adalah hal yang dimaskud erik fromm sebagai hasrat manusia menjadi Tuhan.
tetapi bukankah Tuhan tak pernah dipikirkan seandainya manusia yang berpikir itu tak pernah memikirkannya, atau DIA adalah produk imaji kita yang terus-terus kita pikirkan dan menjadi kebenaran.
Kongklusi;
1. Butterfly efect pada akhirnya memilih menyelamatkan orang yang disayangnya dengan mengubah masa lampau dengan resiko ia harus kehilangan kenangan kekasihnya akan dirinya. sialnya ia mesti menelan kenyataan bahwa ia sadar akan resiko itu. sementara kekasihnya hanya menyadari itu seperti kabut yang begitu tipis diatas langit sana.
2. kenanganku tak harus kuubah dan kita tetap sama-sama memeliki kenangan yang sama walau disamping diriku berjalan khayalan yang berbeda, yang kupercaya bahwa kepngan-kepingan peristiwa selalu mempunyai keterhubungan dan saya bermain resiko dengan spekulasi kisah yang tak lagi kubedakan antara fiksi dan fakta. mungkin lebih adil bila kita menanggung perih atas kenangan tetapi kita masih punya itu dengan kuantitas setara dan kualitas sesuai mampu kita masing-masing. daripada kita tak memiliki itu. kini yang kupercayai bahwa tak ada alasan bagiku bicara soal masa depan sebab sejujurnya hal paling nyata yang dimiliki manusia selain kematian adalah kenangan sebab disutulah kita sadar bahwa kita pernah bermula dan muncul sebagai manusia yang hidup.
3. imajinasi epistemologi adalah kerangka yang memberikan kekayaan psikologis untuk melihat kenyataan lebih lengkap. imajinasi dan pikiran rasional formal itu adalah sepasang kendali psikologis untuk kita mencipta kenyataan.
disana dalam sepasang kendali itu kita membuat kisah yang kemudian kita sebut sebagai kenangan. ini kongklusi dari suatu proyek yang sebenarnya belum kumulai. hanya telah kusadari dan kupahami. tetapi sepertinya kalimat tak pernah cukup menjelaskan ini...
sekedar pengantar...
Rabu, 11 April 2012
ANTARA KITA, KENANGAN. DAN BUTTERFLY EEFECT
Sabtu, 04 Februari 2012
“MEMBURU HARIMAU”, ANTARA PERSAHABATAN DAN KEWAJIBAN
Film yang digarap putra Makassar.
Deru angin kencang me ngentakkan pintu ruang arsip kantor kepolisian itu. Seorang dengan perawakan gagah, berkulit putih pualam, dada bidang, dan tubuh tinggi semampai berjalan tegap. Garis wajah tegasnya ditumbuhi janggut dan kumis tipis. Topi ala koboi melekat erat di kepalanya. Di pinggangnya, terselip revolver.
Sinar, lelaki itu, adalah polisi di bagian reserse kriminal. Siang itu ia bermaksud menjalankan tugasnya sebagai penyelidik atas kasus penembakan misterius yang sedang marak. Orang yang dicurigai ternyata sangat dekat dengan kehidupan Sinar, yaitu Timur, sahabat masa kecilnya. Adegan beralih dari suasana sumpek ruang arsip ke adegan kejar-kejaran pada malam hari antara aparat dan beberapa preman pelaku pembunuhan misterius. Pada akhir adegan itu, sosok dua sahabat, Sinar dan Timur, harus berhadapan.
Adegan di atas adalah bagian dari film pendek yang tengah digarap di Makassar yang berjudul Memburu Harimau. Gedung Mulo dan Institut Kesenian Societeit de Harmonie, pada Jumat lalu, merupakan lokasi awal pengambilan adegan. Adegan kejar-kejaran diambil di daerah pecinan Jalan Jampea.
Film karya sutradara Arman Dewarti ini mengisahkan soal hubungan persahabatan dan cinta di antara dua anak manusia, Sinar dan Timur. Mereka telah bersahabat sejak dulu. Hingga suatu saat, seorang gadis bernama Raya sama-sama merebut perhatian keduanya. Timur, yang awalnya dekat dengan Raya, harus merelakan gadis yang dicintai itu untuk hidup bersama sahabatnya, Sinar, karena sesuatu hal. Mereka berpisah dan mengambil jalan hidup yang berbeda. Timur menyatu dengan kehidupan kelam sebagai preman, sedangkan Sinar menjadi polisi.
“Ini bukan film yang mengedepankan unsur sejarah atau penembakan misterius, tapi film ini lebih menonjolkan sisi hubungan antarmanusia yang terjalin di antara tiga tokoh utamanya,” kata Arman.
Film Memburu Harimau ini bukan yang pertama kali bagi Arman Dewarti. Sebelumnya ia menyutradarai film tentang aktivis yang berjudul Aliguka pada 2010. Namun, membuat film yang cenderung bergenre noir merupakan pertama kali baginya.
“Kami memang mengarahkan film ini untuk bergenre noir, meski belum memastikan karena bisa dilihat hasilnya nanti. Namun, jika diteliti dari cerita, memang eksperimen untuk menghadirkan genre seperti itu,” kata Arman.
Film bergenre noir umumnya mengedepankan unsur sinematografi yang suram. Istilah film noir pertama kali digunakan oleh kritikus Prancis untuk mengistilahkan film-film kriminal-detektif produksi Amerika yang membanjiri bioskopbioskop Prancis selepas Perang Dunia II. Film jenis ini masih sangat jarang di Indonesia. Salah satu sutradara yang pernah menggarapnya adalah Joko Anwar melalui film Kala produksi 2007. Unsur warna hitamputih mendominasi dalam film seperti ini.
Bagi Arman, tidak begitu sulit untuk mendapatkan tempat yang cocok dijadikan sebagai lokasi syuting film berdurasi 30 menit ini. Sebab, di Makassar sendiri banyak gedung berarsitektur tua yang masih kokoh
hingga sekarang. Walhasil, Gedung Mulo, Gedung Kesenian Societeit de Harmonie, dan ruas jalan pecinan dipilih menjadi lokasi yang dianggap mewakili kesan historikal dari film ini. Pengambilan gambar film ini direncanakan menghabiskan waktu selama tujuh hari, mulai 27 Januari hingga 2 Februari 2012.
Ide cerita film Memburu Harimau ini dicetuskan oleh Rusmin Nuryadin, yang menjadi penulis skenario. Arman juga menggaet pemusik tradisional, Masykur El Alif dari Komunitas Ruang Bunyi, untuk mengaransemen tema lagunya.
Salah seorang aktor, Andre Parinussa, mengungkapkan ketertarikannya terlibat dalam film ini. “Semakin meningkatnya karyakarya dari sineas Makassar menunjukkan perkembangan luar biasa dalam bidang sinematografi di Negeri Anging Mammiri,” tutur Andre.
Menurut dia, ide cerita film ini sangat bagus, apalagi dari segi latar waktu, tidak mudah untuk menghadirkan cerita romansa yang berkawin suasana beberapa dekade lalu menjadi suatu tontonan menarik. Bagi Andre, ada tantangan tersendiri dalam memerankan Sinar. “Saya harus belajar menggunakan pistol yang benar serta mendalami sosok tegas Sinar,” ujar mahasiswa Institut Kesenian Makassar ini.
Ini bukan film pertamanya. Ia bahkan pernah menjadi sutradara beberapa film, di antaranya Potrait De Harmonie (Official Selection Festival Film Indonesia 2011) dan Mutiara dari Selatan. Film Memburu Harimau melibatkan aktor-aktor berbakat dari Makassar. Timur diperankan oleh Sese Lawing dan Raya diperankan oleh Ucie.
● ISMIRA SYAHRIR (Koran tempo Makassar)
FILM KARYA SINEAS MAKASSAR - Memburu Harimau, Eksprimen Terbaru Arman Dewarti
Di lobi Gedung Kesenian Sulsel Societeit de Harmonie,Makassar,Rabu (24/1) malam, sejumlah pekerja film terlihat berdiskusi serius.Mereka yang rata-rata masih berusia muda,membahas persiapan akhir sebelum memulai syuting sebuah film.
Sesekali terdengar perdebatan kecil di antara mereka.Hingga larut malam,para pekerja film ini terus berdiskusi. Asap rokok tampak mengepul ke udara menyelingi diskusi mereka di gedung tua itu. Salah satu di antara mereka yang terlibat diskusi adalah Arman Dewarti. Pria ini merupakan satu di antara segelintir sutradara film di Makassar yang terus eksis melahirkan karya.
Film terakhir Arman berjudul Aliguka cukup banyak menuai pujian ketika dirilis pada 2010 lalu. Kali ini Arman membuat sebuah film yang tidak lazim untuk tontonan umum.Film ini lebih menonjolkan sisi gelap atau kesuraman,baik dari sisi cerita maupun tampilan sinematografi. Film yang memulai syuting pada Jumat (27/1) ini berkisah tentang penembak misterius yang pernah marak pada masa Orde Baru.
Tragedi pembunuhan saat itu sering diistilahkan “petrus” yang merupakan singkatan dari penembak misterius. Film yang antara lain mengambil lokasi syuting di Gedung MULO Makassar ini, berjudul Memburu Harimau. Alasan memilih Gedung MULO sebagai lokasi syuting cukup jelas.
Di gedung tua peninggalan Belanda itu, desain interior ruangan cukup mendukung untuk memenuhi kebutuhan artisitik film ini. Seperti cerita suram yang akan disampaikan di film ini, sutradara juga memilih menuangkan gagasannya dalam bentuk sinematografi yang gelap. Dalam film ini penonton akan lebih banyak menemukan warna hitam dan putih.
Jangan pernah membayangkan menyaksikan sebuah film dengan pola adegan yang terstruktur,linier, seperti pada film Aliguka yang dibuat Arman sebelumnya. Film ini justru akan menyuguhkan adegan yang jauh dari pola dan pakem film mainstream.Jika menilik sejumlah produksi film “hitam”yang ada sebelumnya, film ini bisa disebut bergenre noir.
“Kami belum bisa mengkalim ini film bergenre noir,Tetapi,niatnya memang ke arah itu.Kita lihat saja nanti,”ungkap Arman yang berlatar belakang aktor dan sutradara teater ini. Kata noirberasal dari bahasa Prancis yang bermakna gelap,hitam atau suram.Istilah filmnoir pertama kali digunakan oleh kritikus Prancis untuk mengistilahkan film-film kriminal-detektif produksi Amerika yang membanjiri bioskop-bioskop Prancis selepas Perang Dunia Kedua.
Selain bentuk sinematografi yang kelam dan suram,cerita pada film genre noirjuga mengungkap sisi suram manusia. Di Indonesia,film dengan genre ini belum banyak diproduksi.Film Kala karya Joko Anwar yang dibuat pada 2007 diklaim sebagai film pertama beraliran noir di Indonesia.Film ini pernah mendapatkan penghargaan pada sebuah festival film di NewYork,AS.
Ide cerita film Memburu Harimau ini pertama kali dicetuskan Rusmin Nuryadin. Di film ini,Rusmin bertindak sebagai penulis skenario. Rusmin Nuryadin bukan orang baru dalam jagat perfilman Makassar.Sebelumnya dia dikenal sebagai sutradara film pendek Cinta = Cindolo na Tape. Film Memburu Harimau ini melibatkan mahasiswa jurusan film Institut Kesenian Makassar (IKM).Musik ditata oleh Maskur El Alif.
Maskur yang juga dikenal sebagai pengolah musik tradisional dan aktif di Komunitas Ruang Bunyi ini, juga dipercayakan membuat theme song film ini. Memburu Harimau rencana akan mulai rilis pada awal Maret 2012.Tiga aktor akan unjuk akting dalam film “serius” ini, yakni Andre Parinusa,Uchi, dan Sese Lawing. ● BAKTI M MUNIR Makassar
Sabtu, 07 Mei 2011
Aku Slideshow
Aku Slideshow: "TripAdvisor™ TripWow ★ Aku Slideshow ★ to Makassar. Stunning free travel slideshows on TripAdvisor"
Rabu, 20 April 2011
Balada seeokor capung
Ada seekor capung yang tak bisa pulang, ia tersesat oleh malam sementara lampion yang selalu ia bawa lenyap entah kemana.
Jalan yang disangkanya bisa ia mengerti, nyatanya hanya sekumpulan kebingungan yang tak henti menyandera pikirannya.
Himney kematian mendengung
Memburu, menghantui kaki nya
sayap nya gigil oleh hawa kecemasan
matanya yang besar mengkerut pias oleh ketakutannya sendiri.
Ia tak hanya tak bisa pulang, juga alpa bangsanya, lagu kenegaraan dan warna benderanya. Ia juga kekosongan rindu yang senantiasa menggit lembut seperti es krim ketika malam menyergap tubuhnya dalam lautan kesunyian.
“ aku kehilangan rindu, aku amnesia, duh…” lirih ia mengadu
Tiba di segaris perjanalan yang lurus membentang, ia menemukan stasiun-stasiun yang begitu sepi, tak pernah ia merasakan kesepian yang sangat seperti saat ini. Di sepanjang peron Angin hanya berdehem lalu membunyikan kengerian dengan lirih. Lalu gerbong-gerbong kereta bisu dan berkarat. Kata hanya ia temukan pada dinding apa saja yang kusam dan tak utuh lagi. Sepertinya makna pun telah banyak yang putus atau tak selesai.
Ditinggalkan tempat itu, lalu memburu hutan-hutan dengan kerimbunan dan aroma pinus yang basah, tetapi disana hanya tanah lapang dengan sebuah kamboja besar ditengahnya, nisan-nisan tergolek tak teratur memenuhi tanah lapang. Disnikah cerita tentang kebiadaban resah dunia ini telah dilukiskan ?
“ duh! Bahkan aku takut menduga-duganya,”
Dengan keputus-asaan yang memuncak ia melesat tinggi ke langit. Berjuta kesedihan dipanggulnya susah payah yang membuatnya begitu emosional memacu angin dengan sayapnya yang berdengung keras. Air mata tumpah dibawanya pula, nisan-nisa terkubur oleh air matanya yang membanjir.
“begitu bengis kah jalan yang kau berikan ? tubuh ku yang begitu pipih telah direinkarnasi dengan luka yang sama. Aku bahkan menjadi begitu hafal nyanyi sendu itu, aroma anyir darah dari luka yang terus menganga!”
Pada bumi yang tak mau berpihak dengannya, ia tinggalkan
Pada tanah yang menggersangkan rindu nya, ia tak mau lagi berpijak
Pada batu nisan yang telah menjadi kekasih sepanjang kisah, kali ini ia mesti menceraikannya bersama sepotong bulan yang mengintip dari reranting kamboja.
Di langit ia memilih bermukim, pada angan yang mencandui dan masih mau menemaninya tidur…
(16 April 2011, melintasi Semarang)
Jangan Berhenti Mencintai Tuhan karena berbeda

(dialog keberagaman dalam film ? )
“ hanya kebodohan yang bisa menghancurkan keyakinan agama” (dialog dalam Film ‘?’ )
Sudah menjadi menu harian kita, problem keberagaman selalu mendera kehidupan berbangsa di negeri ini. Pemboman tempat ibadah, pengganyangan etnis hingga pembakaran dan pembunuhan terhadap aliran sesat. Sebuah ekpresi pencarian Tuhankah dalam diri kita?
Fakta sosial dan hsitoris bangsa ini adalah keberagaman, bangsa Indonesia suka atau pun tidak mesti menerima kenyataan bahwa ia disusun dari beribu-suku bangsa, beragam keyakinan agama belum lagi adat istiadat yang menjadi unsur penyusun kebudayaan kita sekaligus nafas berbangsa kita.
Kita mungkin tak mengelak hal tersebut, tetapi membicarakan perbedaan-lucunya- seolah sesuatu yang tabu, sensitif di negeri ini. Juga pekerjaan rumah yang tak kunjung usai bangsa ini justru adalah mencoba mencari formulasi yang tepat bagi kehidupan berbangsa dengan fakta sosial tadi.
Maka menjadi maklumlah kita, bila film terbaru garapan Hanung Bramantyo berjudul ‘?’ (baca tanda Tanya) ini mengundang reaksi khususnya dari kalangan agamawan. Mereka menuduh, film ini mempromosikan bolehnya seseorang untuk murtad dari agamanya. Setelah melihat sendiri film ini, saya justru menyimpulkan pandangan menuduh tersebut mungkin hanyalah kesimpulan yang diambil secara parsial belaka.
Memang ada tokoh dalam film yang mengambil setting lokasi kota lama, Semarang bernama Rika yang memilih menjanda dari suaminya yang muslim karena menolak di poligami. Ia kemudian memilih pindah agama yang membuatnya resisten dengan lingkungannya bahkan dengan kedua orang tuanya, hal yang paradox bahwa tokoh Rika tetap membiarkann anaknya tumbuh sebagai muslim –yang menarik bahwa logika cerita tokoh Rika ini seolah ‘patah’ dengan alur bahwa ia menolak poligami lalu pindah agama.
Menuduh bahwa film ini mempromosikan murtad itu boleh saya anggap parsial karena satu tokoh yang cukup penting dalam film ini, yakni Menuk perempuan muslimah yang taat dan bekerja di restaurant cina ini, dikisahkan lebih memilih menikah dengan tokoh Soleh ketimbang Hendra karena alasan Soleh seiman dengannya dan seorang muslim yang taat walaupun ia hanya pengangguran, tokoh menuk ini menjadi prototype muslimah yang masih memegang teguh keyakinan agamanya dan tak buruk bila tak sekuluer.
Film ini tidak sedang mengajari kita bagaimana hidup berdampingan dengan orang-orang yang berbeda agama, suku dan bahkan cara berpikir. Tetapi Hanung menurut saya sekedar menghamparkan wajah bangsa ini yang asli yang telah lama kita sembunyikan. Seolah keberagaman adalah aib yang mesti kita tutup rapat-rapat karena bila dibicarakan- apalagi dipraktekkan- secara terbuka, hanya akan menimbulkan kemarahan. Dan sejarah mempelihatkan betapa kebangsaan kita telah terkoyak babak belur oleh konflik agama dan suku itu.
Tetapi kita masih bias berlapang dada menerima fakta keberagaman tersebut, hingga konflik-konflik yang ‘melukai’ kebangsaan kita itu seperti api dalam sekam yang akan membesar sewaktu-waktu. Seperti penyakit yang bisa kambuh lagi. Lihatlah bagaimana pikiran-pikiran yang ditelorkan oleh Nurcholis Madjid dan Gus Dur yang kini telah almarhum, ditanggapi sinis bahkan dihalalkan darahnya itu hanya karena mencoba menerima kenyataan keberagaman tersebut.
Film ini hanya memperlihatkan –sekali lagi- kenyataan keberagam tersebut berikut dengan dampak-dampaknya. Walaupun masih ada sedikit bumbu dramatisasi didalamnya, tetapi secara keseluruhan film ‘?’ ini berupaya jujur dengan ‘wajah’ asli bangsa ini, perbedaan.
Kalaupun ada yang ‘tersinggung’ dengan paparan dari film tersebut juga patut dimaklumi dan diapresiasi. Sebab manusia punya cara tersendiri ‘mencintai’ Tuhannya. Mereka yang condong dianggap fundamentalis atau ortodoks tentu punya teks dalil yang mereka pakai untuk melegitimasi cara pandangnya, hanya pada tindakanlah kita bisa memaksakan cara pandang tersebut. Disinilah pemerintah mengambil peranan untuk mengatur warga negaranya dan menempatkan mereka sama dihadapan hukum dan sebagai warga negara. Pemerintah mesti tegas dan tidak dibingungkan oleh tekanan-tekanan kelompok tertentu. Pemerintah mesti sekuler dalam urusan ini, dan itu tidak mesti dikhawatirkan dapat mengikis keyakinan agamanya.
Pemerintah mesti sekuler itu dalam kerangka menjalankan fungsi kekhalifaan yang menjaga keteraturan masyarakatnya dan dunia ini pada umumnya. Dengan begitu masyarakat bisa belajar bahwa kita diciptakan Tuhan dalam kondisi berbeda-beda, Tuhan pun tidak menciptakan manusia untuk bersusah payah membenarkan Diri-Nya, Tuhan sudah benar andaipun seluruh manusia bersekutu untuk menolak-Nya. Maksud Tuhan menciptakan tidak lain kecuali hanya untuk menyembah-Nya.
Menyembah sesuatu yang kita akui serba maha adalah urusan mencintai, manusia menunjukan cara-cara yang beraneka ragam dalam mengekspresikan kecintaan-Nya itu. Dan inilah sisi unik maunusia sebagai mahluk yang kreatif, sebagai mahluk Tuhan diberi potensi akal. Manusia bahkan punya jutaan bahasa hanya untuk mengatakan “aku mencintai mu”
Artikulasi mencinta kita dengan berani mengakui cara yang berbeda inilah yang harus selalu tanpa hentinya kita pelajari bersama. Umat beragama boleh egois dalam mengharapkan keridhaannya, tetapi kita juga bisa menerima bahwa hamba Tuhan bukan hanya satu, karena hanya DIA yang boleh satu!
Semestinya film ini makin mendewasakan kita atas fakta keberagamaan bukan sebaliknya
Jadi bila tagline film ini adalah “masih pentingkah kita berbeda ?” menurut saya, masih cukup penting karena setidaknya ia mengajarkan kita untuk selalu mengkoreksi diri sendiri, selalu member kita ‘warna’ keseragaman.
Jadi jangan berhenti mencintai Tuhan hanya karena kita berbeda, dan sungguh cinta yang tulus tidak dengan kemarahan….
Minggu, 02 Januari 2011
(JIKA) UMURKU TAK CUKUP PANJANG MENYAYANGIMU
Jika puisi ku tak cukup indah menggambarkan cinta ku padamu, maka bacalah ketulusan dari dua mataku.
Jika laguku tak cukup merdu mengungkapkan perasaanku padamu, maka dengarkanlah debaran jantungku ditelingamu.
Jika nafasku tak cukup panjang menyebut utuh namamu, maka biarkanlah anging melafadzkan sisanya untukku.
Dan
Jika umurku tak cukup panjang menyayangimu, maka nyawaku berlebih untuk itu...


